Merendahkan
Suara
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu
lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras
sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain,
supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari.
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka
itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi
mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujuraat:1-3)
Melalui ayat di atas Allah Ta’ala mengajar
orang-orang yang beriman dua macam adab kalau mereka berhadapan dengan Rasul sallallahu
alaihi wasalam, yaitu:
i.
Dalam bentuk perbuatan
ii.
Dalam bentuk ucapan.
i.
Dalam bentuk perbuatan:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya”.
Maksudnya: Hai orang-orang yang
beriman janganlah kamu terburu-buru menetapkan suatu hukum sebelum datang
hukum dari Allah dan RasulNya untukmu. Barangkali ketetapan kamu itu
bertentangan dengan ketentuan Allah dan RasulNya.
Di dalam ayat ini Allah Ta’ala
menyuruh orang-orang yang beriman agar melaksanakan apa yang disuruh oleh Allah
dan menjauhi laranganNya; dan melaksanakan apa yang disuruh oleh Rasulullah sallallahu
alaihi wasalam dan menjauhi larangannya. Mereka semestinya tunduk dalam
semua hal kepada ketentuan-ketentuan Allah yaitu dengan mengikuti (ittiba’)
Rasulullah sallallahu alaihi wasalam.
Mereka tidak wajar mendahului Allah
dan Rasul dalam semua hal. Mereka jangan hendaknya berbuat atau melakukan
amalan apapun melainkan sesuai dengan ketentuan Allah dan RasulNya. Dalam
hadits shahih Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda: “Tidak beriman salah seorang dari kamu
sehingga kamu sesuaikan hawa nafsumu dengan apa yang aku bawa”.
Kita hendaknya memiliki sikap seperti
sahabat Nabi sallallahu alaihi wasalam yaitu Mu’az bin Jabal ketika
beliau akan ditugaskan ke Yaman sebagai Gubernur. Ikutilah dialog di bawah ini:
Rasul : Dengan apa engkau akan
menetapkan hukum?
Mu’az : Dengan Kitab Allah
(Al-Quran).
Rasul : Sekiranya engkau tidak
mendapatinya?
Mu’az : Dengan sunnah RasulNya.
Rasul: : Sekiranya engkau tidak
mendapatinya?
Mu’az : Aku akan berijtihad dengan
pandanganku.
Mendengar jawapan itu lalu Rasulullah
sallallahu alaihi wasalam menepuk dada Mu’az (sebagai tanda redha beliau kepadanya) seraya bersabda:
“Segala puji bagi Allah yang telah
memberi taufiqNya kepada utusan RasulNya dengan apa yang diredhai oleh RasulNya”.
[Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmidzi]
Jadi ayat di atas mengandung larangan
yang amat keras kepada orang-orang yang beriman agar tidak memiliki sikap lebih
mengutamakan pandangan manusia mengatasi ketentuan Rasulullah sallallahu
alaihi wasalam walaupun mereka itu dari kalangan Ulil Amri (Umaraa atau
‘Ulamaa).
Kemudian Allah Ta’ala menyuruh: “Dan
bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”.
Thalaq Bin Habib berkata: Makna Taqwa
kepada Allah ialah mentaati ketentuan Allah sambil mengharap ganjaran pahala
dariNya, dan meninggalkan perkara maksiat dengan taufiq Allah kerana takut
kepada siksaan Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
semua suara pada semua waktu dan keadaan. Dan Dia Maha Mengetahui semua yang
zahir dan yang batin, peristiwa masa silam atau yang akan datang.
Hikmah menyebut dua Nama Allah di
atas yaitu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui setelah larangan mendahului Allah
dan Rasul dan setelah perintah agar kita melaksanakan suruhan yang amat baik
itu serta menghias diri kita dengan adab-adab yang mulia. Dan secara tidak
langsung memberi peringatan agar kita jangan melakukan hal-hal sebaliknya.
ii. Dalam bentuk ucapan:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah
kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara)
sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain”.
Maksudnya: Jika Rasul sallallahu
alaihi wasalam berkata dan kamu juga berkata, maka janganlah suara kamu
lebih tinggi (keras) dari suara beliau. Sebab perbuatan tersebut menunjukkan
kurang penghormatan kepadanya.
Sikap tersebut dapat menyakiti hati
beliau dan menyinggung perasaannya. Padahal Allah Ta’ala melarang keras kita
menyakiti perasaan Rasulullah sallallahu alaihi wasalam:
tûïÏ%©!$#ur tbrè÷sã tAqßu «!$# öNçlm; ë>#xtã ×LìÏ9r& ÇÏÊÈ
“Dan orang-orang yang menyakiti
Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih”. (At-Taubah: 61)
Adab kita kepada beliau bukan hanya
diwajibkan ketika beliau masih hidup. Malahan setelah beliau wafat pun kita mesti
beradab dan bersopan santun kepadanya dan dilarang menyakitinya. Dan di antara
adab-adab tersebut ialah:
-
Tidak meninggikan suara ketika
menziarahi kuburannya.
-
Tidak menolak haditsnya atau meragukan
kejujurannya.
-
Mengutamakan haditsnya daripada
pandangan ulama.
-
Tidak mencaci isteri-isteri dan
sahabat-sahabatnya.
-
Mengikuti sunnahnya dengan penuh
keredhaan
Jika salah satu hal di atas
dilakukan oleh seseorang maka ia bisa merusakkan amalan orang itu tanpa
disadarinya. Ini sebagaimana firman Allah pada akhir ayat di atas:
“...supaya tidak hapus (pahala)
amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.
Berdasarkan ketentuan ini dapatlah
kita simpulkan bahawa sikap biadab golongan anti-hadits yang meragukan
kewibawaan Nabi saw dalam menafsirkan Al-Quran adalah sangat menyakitkan hati
beliau. Dan jika kesimpulan ini betul sudah pasti amalan mereka tidak akan
diterima oleh Allah Ta’ala sekiranya mereka tidak bertaubat kepada Allah
sebelum mereka mati.
Adapun ayat berikutnya Allah Ta’ala memuji
orang-orang yang merendahkan suaranya terhadap Rasulullah sallallahu alaihi
wasalam:
“Sesungguhnya orang-orang yang
merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah
diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan ganjaran
yang besar”.
Ayat ini sering dihubungkan oleh
mufassirin dengan Tsabit bin Qais, sahabat Nabi yang memiliki suara yang besar
dan lantang. Setelah ayat larangan di atas diturunkan, beliau menjauhkan diri
dari majlis Nabi kerana khuatir kalau kalau amalannya musnah kerana suaranya.
Nabi menafikan anggapannya itu dan menjanjikan untuknya syurga.
Ayat di atas selain mengandung pujian Allah kepada orang yang merendahkan suaranya terhadap Rasulullah sallallahu
alaihi wasalam juga sikap demikian sebenarnya adalah ujian dari Allah
siapakah dari hambaNya yang benar-benar bertaqwa kepadaNya.
Barangsiapa yang istiqamah dengan
suruhanNya, mengharap akan keredhaanNya, bersegera menunaikan tuntutanNya, lalu
mendahulukan Allah dan Rasul daripada hawa nafsunya, maka dialah orang yang
bertaqwa. Allah menjanjikan untuknya ampunan dan ganjaran yang besar.
Mujahid berkata: Sepucuk surat ditulis kepada Umar
Ibnu Al-Khattab r.a. yang isinya: “Wahai Amiral Mu’minin, siapakah orang
yang lebih baik antara orang yang tidak ingin melakukan maksiat dan tidak
melakukannya, ataukah orang yang ingin sangat melakukan maksiat tetapi ia tidak
melakukannya?”
Lalu Umar membalas surat tersebut:
“Sesungguhnya orang yang ingin sangat
melakukan maksiat tetapi dia tidak melakukannya, merekalah yang dimaksudkan
oleh ayat:
y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# z`ystGøB$# ª!$# öNåku5qè=è% 3uqø)G=Ï9 4 Oßgs9 ×otÏÿøó¨B íô_r&ur íOÏàtã ÇÌÈ
“Mereka
itulah orang-orang yang diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka
ampunan dan ganjaran yang besar”.
(Media Orang Kampung/Al-Ghazali)
(Media Orang Kampung/Al-Ghazali)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar