Halaman

Minggu, 10 Juni 2012

Wahyu


Merendahkan Suara

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyedari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Hujuraat:1-3) 
Melalui ayat di atas Allah Ta’ala mengajar orang-orang yang beriman dua macam adab kalau mereka berhadapan dengan Rasul sallallahu alaihi wasalam, yaitu:
i.     Dalam bentuk perbuatan
ii.     Dalam bentuk ucapan.

i.     Dalam bentuk perbuatan:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya”.
Maksudnya: Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu terburu-buru menetapkan suatu hukum sebelum datang hukum dari Allah dan RasulNya untukmu. Barangkali ketetapan kamu itu bertentangan dengan ketentuan Allah dan RasulNya.
Di dalam ayat ini Allah Ta’ala menyuruh orang-orang yang beriman agar melaksanakan apa yang disuruh oleh Allah dan menjauhi laranganNya; dan melaksanakan apa yang disuruh oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasalam dan menjauhi larangannya. Mereka semestinya tunduk dalam semua hal kepada ketentuan-ketentuan Allah yaitu dengan mengikuti (ittiba’) Rasulullah sallallahu alaihi wasalam.
Mereka tidak wajar mendahului Allah dan Rasul dalam semua hal. Mereka jangan hendaknya berbuat atau melakukan amalan apapun melainkan sesuai dengan ketentuan Allah dan RasulNya. Dalam hadits shahih Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda:  “Tidak beriman salah seorang dari kamu sehingga kamu sesuaikan hawa nafsumu dengan apa yang aku bawa”.
Kita hendaknya memiliki sikap seperti sahabat Nabi sallallahu alaihi wasalam yaitu Mu’az bin Jabal ketika beliau akan ditugaskan ke Yaman sebagai Gubernur. Ikutilah dialog di bawah ini:
Rasul : Dengan apa engkau akan menetapkan hukum?
Mu’az : Dengan Kitab Allah (Al-Quran).
Rasul : Sekiranya engkau tidak mendapatinya?
Mu’az : Dengan sunnah RasulNya.
Rasul: : Sekiranya engkau tidak mendapatinya?
Mu’az : Aku akan berijtihad dengan pandanganku.
Mendengar jawapan itu lalu Rasulullah sallallahu alaihi wasalam menepuk dada Mu’az (sebagai tanda redha beliau kepadanya) seraya bersabda:
Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiqNya kepada utusan RasulNya dengan apa yang diredhai oleh RasulNya”. [Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmidzi]
Jadi ayat di atas mengandung larangan yang amat keras kepada orang-orang yang beriman agar tidak memiliki sikap lebih mengutamakan pandangan manusia mengatasi ketentuan Rasulullah sallallahu alaihi wasalam walaupun mereka itu dari kalangan Ulil Amri (Umaraa atau ‘Ulamaa).
Kemudian Allah Ta’ala menyuruh: “Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Thalaq Bin Habib berkata: Makna Taqwa kepada Allah ialah mentaati ketentuan Allah sambil mengharap ganjaran pahala dariNya, dan meninggalkan perkara maksiat dengan taufiq Allah kerana takut kepada siksaan Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua suara pada semua waktu dan keadaan. Dan Dia Maha Mengetahui semua yang zahir dan yang batin, peristiwa masa silam atau yang akan datang.
Hikmah menyebut dua Nama Allah di atas yaitu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui setelah larangan mendahului Allah dan Rasul dan setelah perintah agar kita melaksanakan suruhan yang amat baik itu serta menghias diri kita dengan adab-adab yang mulia. Dan secara tidak langsung memberi peringatan agar kita jangan melakukan hal-hal sebaliknya. 

ii.    Dalam bentuk ucapan:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih daripada suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain”.
Maksudnya: Jika  Rasul sallallahu alaihi wasalam berkata dan kamu juga berkata, maka janganlah suara kamu lebih tinggi (keras) dari suara beliau. Sebab perbuatan tersebut menunjukkan kurang penghormatan kepadanya.
Sikap tersebut dapat menyakiti hati beliau dan menyinggung perasaannya. Padahal Allah Ta’ala melarang keras kita menyakiti perasaan Rasulullah sallallahu alaihi wasalam:
tûïÏ%©!$#ur tbrèŒ÷sムtAqßu «!$# öNçlm; ë>#xtã ×LìÏ9r& ÇÏÊÈ
Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih”.  (At-Taubah: 61)
Adab kita kepada beliau bukan hanya diwajibkan ketika beliau masih hidup. Malahan setelah beliau wafat pun kita mesti beradab dan bersopan santun kepadanya dan dilarang menyakitinya. Dan di antara adab-adab tersebut ialah:
-      Tidak meninggikan suara ketika menziarahi kuburannya.
-      Tidak menolak haditsnya atau meragukan kejujurannya.
-      Mengutamakan haditsnya daripada pandangan ulama.
-      Tidak mencaci isteri-isteri dan sahabat-sahabatnya.
-      Mengikuti sunnahnya dengan penuh keredhaan
Jika salah satu hal di atas dilakukan oleh seseorang maka ia bisa merusakkan amalan orang itu tanpa disadarinya. Ini sebagaimana firman Allah pada akhir ayat di atas:
“...supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”.
Berdasarkan ketentuan ini dapatlah kita simpulkan bahawa sikap biadab golongan anti-hadits yang meragukan kewibawaan Nabi saw dalam menafsirkan Al-Quran adalah sangat menyakitkan hati beliau. Dan jika kesimpulan ini betul sudah pasti amalan mereka tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala sekiranya mereka tidak bertaubat kepada Allah sebelum mereka mati.
Adapun ayat berikutnya Allah Ta’ala memuji orang-orang yang merendahkan suaranya terhadap Rasulullah sallallahu alaihi wasalam:
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar”.
Ayat ini sering dihubungkan oleh mufassirin dengan Tsabit bin Qais, sahabat Nabi yang memiliki suara yang besar dan lantang. Setelah ayat larangan di atas diturunkan, beliau menjauhkan diri dari majlis Nabi kerana khuatir kalau kalau amalannya musnah kerana suaranya. Nabi menafikan anggapannya itu dan menjanjikan untuknya syurga.
Ayat di atas selain mengandung pujian Allah kepada orang yang merendahkan suaranya terhadap Rasulullah sallallahu alaihi wasalam juga sikap demikian sebenarnya adalah ujian dari Allah siapakah dari hambaNya yang benar-benar bertaqwa kepadaNya.
Barangsiapa yang istiqamah dengan suruhanNya, mengharap akan keredhaanNya, bersegera menunaikan tuntutanNya, lalu mendahulukan Allah dan Rasul daripada hawa nafsunya, maka dialah orang yang bertaqwa. Allah menjanjikan untuknya ampunan dan ganjaran yang besar.
Mujahid berkata: Sepucuk surat ditulis kepada Umar Ibnu Al-Khattab r.a. yang isinya: “Wahai Amiral Mu’minin, siapakah orang yang lebih baik antara orang yang tidak ingin melakukan maksiat dan tidak melakukannya, ataukah orang yang ingin sangat melakukan maksiat tetapi ia tidak melakukannya?”
Lalu Umar membalas surat tersebut:
“Sesungguhnya orang yang ingin sangat melakukan maksiat tetapi dia tidak melakukannya, merekalah yang dimaksudkan oleh ayat:
y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# z`ystGøB$# ª!$# öNåku5qè=è% 3uqø)­G=Ï9 4 Oßgs9 ×otÏÿøó¨B íô_r&ur íOŠÏàtã ÇÌÈ
“Mereka itulah orang-orang yang diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa. Bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar”.
(Media Orang Kampung/Al-Ghazali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar